A. AKHLAK BERPAKAIAN
Pakaian adalah salah satu alat pelindung fisik manusia. Tentunya pakaian tak
lepas dari kehidupan manusia. Semua kehidupan manusia haruslah sesuai syari’at
Islam, yang mana telah diatur oleh Al – Qur’an. Maka dari itu, manusia haruslah
berpakaian sesuai dengan yang telah diatur oleh Allah SWT. Berpakaian sesuai
dengan syari’at Islam, akan membuat kita merasa itu adalah sebuah kewajiban
untuk menjaganya agar tetap dengan aturan yang ada.
1. Pengertian Akhlak Berpakaian
Pakaian adalah kebutuhan pokok bagi setiap orang sesuai dengan situasi dan
kondisi dimana seorang berada. Pakaian termasuk salah satu kebutuhan yang tak
bisa lepas dari kehidupan. Karena pakaian mempunyai manfaat yang sangat besar
bagi kehidupan kita. Melindungi tubuh kita agar tidak mengalami dan mendapatkan
bahaya dari luar. Dalam bahasa Arabg pakaian disebut dengan kata
“Libaasun-tsiyaabun”. Dan salam kamus besar Bahasa Indonesia, pakaian diartikan
sebagai barang apa yang biasa dipakaioleh seorang baik berupa jaket, celana,
sarung, selendang, kerudung, jubah, surban dll.
Secara isltilah, pakaian adalah segala sesuatuyang dikenakan seseorang dalam
berbagai ukuran dan modenya berupa (baju, celana, sarung, jubah, ataupun yang
lain), yang disesuaikan dengan kebutuhan pemakainya untuk suatu tujuan yang
bersifat khusus artinya pakaian yang digunakan lebih berorientasi pada nilai
keindahan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi pemakaian.
Pakaian mempunyai tujuan umum untuk melindungi ataupun menutup tubuh manusia agar
terhindar dari bahaya yang dapat merusak tubuh kita secara langsung melalui
kontak fisik. Sedangkan menurut agama lebih mengarah kepada menutup aurat tubuh
manusia, agar tidak melanggar ketentuan syariat.
2. Bentuk akhlak berpakaian
Didalam pandangan IslamDalam pandangan Islam, pakaian terbagi menjadi 2 bentuk
pertama pakaian untuk menutupi aurat tubuh sebagai realisasi dari perintah
Allah bagi wanita seluruh tubuhnya kecuali tangan dan wajah, dan bagi pria
menutup aurat dibawah lutut dan diatas pusar. Batasan pakaian yang telah
ditetapkan oleh Allah ini melahirkan kebudayaan yang sopan dan enak dilihat
oleh kita dan kita pun merasa aman dan tenang karena pakaian kita yang memenuhi
kewajaran pikiran manusia. Sedangkan yang kedua, pakaian merupakan perhiasan
yang menyatakan identitas diri sebagai konsekuensi perkembangan peradaban
manusia.
Apabila berpakaian dalam tujuan menutup aurat dalam Islam, memiliki ketentuan –
ketentuan yang jelas, baik dalam hal ukuran pakaian maupun jenis pakaian yang
akan dipakai. Maka dari itu, sebagai muslim kita harus mengikuti aturan yang
telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Pakaian yang berfungsi sebagai perhiasan menyatakan identitas diri, sesuai
dengan adat dan tradisi dalam berpakaian, yang menjadi kebutuhan untuk menjaga
dan mengaktualisasi dirinya dalam perkembangan zaman. Setiap manusia berhak
mengekspresikan dirinya lewat pakaian yang dipakainya, tetapi tidaklah
sembarangan. Tetap harus mengikuti syari’at Islam.
Didalam Islam, kita mengenal salah satu jenis pakaian yang dapat menutup salah
satu aurat wanita yaitu Jilbab. Jilbab mempunyai berbagai ragam jenisnya,
tetapi walaupun banyak ragamnya Jilbab boleh dikatakan Jilbab apabila dapat
menutup aurat, dari atas kepala manusia sampai dengan dada manusia,menutupi
bagian – bagian yang harus ditutupi terkecuali muka.
Bagi wanita, aurat adalah seluruh bagian tubuh kecuali muka dan telapak tangan,
yang lainnya haram untuk diperlihatkan kepada masyarakat umum. Kecuali bagi
mahram atau maharimnya. Bagi suaminya, wanita tidak mempunyai batasan aurat.
Busana Muslimah haruslah mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Tidak jarang dan Ketat
2. Tidak menyerupai laki – laki
3. Tidak menyerupai busana khusus non-muslim
4. Pantas dan sederhana (Roli A. Rahman dan M. Khamzah, 2008:30)
3. Nilai positif Akhlak Berpakaian
Pakaian sangat berfungsi bagi tubuh kita, salah satunya untuk melindungi kulit
kita. Apabila kulit kita tidak terlindungi oleh pakaian, langsung terkena
pancaran sinar ultra violet, maka kulit kita akan terbakar dan kita bisa mengalami
kanker kulit.
Pakaian juga menjaga suhu tubuh menusia agar tetap stabil, dengan menggunakan
jenis bahan pakaian tertentu, kita bisa menjaga suhu tubuh kita. Pakaian juga
bisa menjadi identitas diri kita, apabila kita menggunakan pakaian yang bagus dan
kelihatan nyaman, berarti kita sudah memenuhi kriteria berpakaian yang sopan,
dan kita pun bisa melakukan ibadah tanpa harus khawatir, apakah baju kita suci
dan pantas untuk dipakai.
4. Membiasakan akhlak berpakaian
Agama Islam memerintahkan pemeluknya agara berpakaian yang baik dan bagus,
sesuai dengan kemampuan masing – masing. Dalam pengertian bahwa pakaian
tersebut dapat memenuhi hajat tujuan berpakaian, yaitu menutup aurat dan
keindahan.
Islam memiliki etika berbusana yang telah diatur oleh Allah SWT didalam Al –
Qur’an dan Hadits. Didalam Islam, kita sebagai umat Allah tidak diperbolehkan
memakai pakaian yang melanggar aturan Islam, tetap harus mengikuti aturan itu
sampai kita meninggal. Jika kita melanggar, dan tidak mau mengikuti aturan yang
telah ditetapkan oleh Allah, maka sama saja kita orang munafiq. Zaman semakin
berkembang bukan berarti kita harus mengikuti perkembangan yang ada secara
keseluruhan. Pakaian merupakan pengaruh yang besar bagi perkembangan zaman.
Karena, akibat dari perkembangan zaman yang datangnya dari Dunia Barat, sangat
mempengaruhi mode pakaian kita sebagai umat muslim. Maka dari itu biasakanlah
berpakaian sesuai syari’at Islam, agar tidak terpengaruh oleh pengaruh –
pengaruh negatif, yang membuat kita lupa akan Allah serta aturanNya.
B. AKHLAK BERHIAS
1. Pengertian Akhlak Berhias
Berhias adalah naluri yang dimiliki oleh manusia. Berhias sudah menjadi
kebutuhan bagi sebagian besar manusia, agara dapat memperindah diri baik di
lingkungan sekitar maupun diluar. Berhias adalah salah satu alat untuk
mengekspresikan diri, yang menunjukkan identitas serta jati diri seseorang.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, berhias diartikan “usaha memperelok diri
dengan pakaian ataupun yang lainnya yang indah, berdandan dengan dandanan yang
indah dan menarik”.
Berhias dapat memberikan kesan indah tersendiri bagi orang lain yang
melihatnya, baik dari segi pakaian, maupun make up wajah mereka. Maka dari itu
berhias dikategorikan sebagai akhlak terpuji. Tetapi berhias juga terdapat
aturannya agar tidak melanggar syari’ay Islam. Dalam sebuah hadits Nabi SAW
bersabda:
Artinya: Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan (HR. Muslim)
2. Bentuk Akhlak Berhias
Berhias bukanlah dipandang dari segi dandanan nuka, tetapi pakaian juga termasuk
sesuatu yang bisa dikatakan alat untuk berhias. Pakaian kita yang sederhana
bisa menjadi pakaian yang mempunyai nilai keindahan yang tinggi apabila kita
beri hiasan agar kita terlihat cantik memakainya. Jilbab juga dapat menjadi
hiasan. Sekarang sudah banyak bentuk Jilbab yang berbagai macam, dan dapat
menghias diri kita agar terlihat indah dan nyaman dipakai.
Perhiasan kita juga termasuk salah satu alat untuk berhias. Arloji, kalung,
gelang, cincin dsb. Parfum juga termasuk, tapi kita tidak boleh lupa. Jika kita
ingin berhias tersapat rambu – rambu, agar tidak melanggar Syari’at yang sudah
ditetapkan oleh Allah:
1. Niat yang lurus, berhias hanya untuk beribadah yang diorientasikan sebagai
rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan.
2. Dalam berhias tidak diperbolehkan menggunakan bahan – bahan yang dilarang
agama
3. Tidak boleh menggunakan hiasan yang menggunakan simbol non muslim
4. Tidak berlebih – lebihan
5. Tidak Boleh berhias seperti orang jahiliah
6. Berhias menurut kelaziman dan kepatutan dengan memperhatikan jenis kelamin
7. Berhias bukan untuk berfoya – foya
Ketika berhias terkadang kita lupa akan aturan, melewati batas kewajaran yang
telah ditetapkan. Seringkali naluri manusia berubah menjadi hawa nafsu yang
liar. Yang aka menyebabkan manusia terjerumus kedalam hal yang mnyesatkan.
Agama Islam memeberi batasan dalam etika berhias, sebagaimana ditegaskan dalam
firman Allah
3. Nilai positif Akhlak Berhias
Berhias dapat menunjukkan kepribadian kita. Apabila kita menggunakan hiasan
yang cocok dengan diri kita, maka orang akan menilai diri kita dengan pandangan
yang berbeda ketika kita tidak berhias. Jika kita menggunakan arloji, jas,
kerudung, maka orang lain akan memandang kita dengan penug pemikiran. Bahwa
kita sebenarnya tidak sesederhana yang dibayangkan. Kita bisa berorientasi
dengan waktu, tanpa meninggalkan syari’at Islam.
Berhias memberikan pengaruh positif dalam berbagai aspek kehidupan, karena
berhias diniatkan untuk beribadah, maka setiap langkah kita akan menjadi
langkah menggapai barokan dan pahala dari Allah SWT. Namun sebaliknya apabila
berhias hanya untuk menarik perhatian orang lain untuk tergoda dan memuji muji
kita agar kita senang sendiri, maka itu menjadi alat yang sesat. Lupa
akan Allah, dan hanya ingin dijadikan alat pemuas diri kita. Maka yang demikian
itu adalah haram.
4. Membiasakan akhlak berhias
Berhias merupakan kebutuhan manusia untuk menjaga dan mengaktualisasikan
dirinya menurut tunutan perkembangan zaman. Nilai keindahan dan kekhasan dalam
berhias menjadi tuntutan yang terus dikembangkan seiring dengan perkembangan
zaman. Dalam kaitannya dengan kegiatan berhias atau berhias atau berdandan,
maka setiap manusia memiliki kebebasan untuk mengekspresikan keinginan
mengembangkan berbagai mode menurut fungsi dan momentumnya, sehingga berhias
dapat menyatakan identitas diri seseorang.
Dalam Islam diperintahkan untuk berhias yang baik, bagus, dan indah sesuai
dengan kemampuan masing – masing. Terutama apabila kita akan melakukan ibadah
shalat maka seyogyanya perhiasan yang kita pakai itu haruslah baik, bersih dan
indah (bukan berarti mewah), karena mewah itu sudah memasuki wilayah
berlebihan.
Hal ini sesuai firman Allah; “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah
disetiap (memasuki ) masjid, makan, minumlah, dan janganlah berlebih – lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang brlebih – lebihan.” Qs. Al - A’raf
/7 : 31)
C. AKHLAK PERJALANAN (SAFAR)
1. Pengertian Akhlak Perjalanan
Perjalanan dalam bahasa Arab disebut dengan kata “Rihlah atau – Safar” dalam
kamus besar Bahasa Indonesia perjalanan diartikan ; “perihal” (cara, gerakan,
dsb) Berjalan atau berpergian dari suatu tempat menuju tempat untuk suatu
tujuan”. Secara istilah, perjalanan sebagai aktifitas seseorang untuk keluar
ataupun meninggalkan rumah dengan berjalan kaki ataupun menggunakan berbagai
sarana transportasi yang mengantarkan sampai pada tempat tujuan dengan maksud
ataupun tujuan tertentu.
Pada zaman Rasulullah, melakukan perjalanan telah menjadi tradisi masyarakat
Arab. Dalam Al Qur’an Surah Al Quraisy yang disebut diatas, Allah mengabadikan
tradisi masyarakat Arab yang suka melakukan perjalananpada musim tertentu untuk
berbagai keperluan. Karena itu tidak heran jika Islam sebagai satu – satunya
agama yang mengatur kegiatan manusia dalam melakukan perjalanan, mulai dari
masa persiapan perjalanan, ketika masih berada dirumah, selanjutnya pada saat
dalam perjalanan dan ketika sudah kembali pulang dari suatu perjalanan. (Roli
A. Rahman, dan M. Khamzah, 2008: 37)
2. Bentuk Akhlak Perjalanan
Islam mengajarkan agar setiap perjalanan yang dilakukan bertujuan untuk mencari
Ridho Allah. Diantara jenis perjalanan (Safar) yang dianjurkan dalam Islam
yaitu pergi Haji, Umroh, menyambung silaturahmi , menuntut Ilmu, berdakwah,
berperan di jalan Allah, mencari karunia Allah dll. Perjalanan (Safar) juga
berfungsi untuk menyehatkan dan merefreshing kondisi jasmani dan rohani dari
kelelahan dan kepenatan dalam menjalani suatu aktifitas.
Sebagai pedoman Islam mengajarkan adab dalam melakukan perjalanan yaitu :
1. Bermusyawarah dan shalat Istikharah
2. Mengembalikan hak dan amanat kepada pemiliknya
3. Membawa 6 benda : gunting, siwak, tempat celak, tempat air minum, cebok dan
wudhu. Hal tersebut disunnahkan Rasulullah
4. Menyertakan Istri ataupun anggota keluarga
5. Wanita menyertakan teman atau muhrimnya
6. Memiliki kawan pendamping yang shalih dan shalihah
7. Mengangkat pemimpin atau ketua rombongan
8. Mohon pamitan pada keluarga dan handai taolan serta mohon do’a
3. Nilai positif Akhlak Perjalanan
Keuntungan melakukan perjalanan diantaranya yaitu:
1. Safar dapat menghibur diri dari kesedihan
2. Safar menjadi sarana bagi sesorang untuk memperoleh tambahan pengalaman
3. Safar dapat mengantarkan seseorang untuk memperoleh pengalaman dan ilmu
pengetahuan
4. Dengan Safar maka seseorang akan lebih banyak mengenal adapt kesopanan yang
berkembang pada suatu komunitas masyarakat.
5. Perjalanan akan dapat menambah wawasan dan bahkan kawan yang baik dan mulia.
(Roli A. Rahman, dan M. Khamzah, 2008: 37)
4. Membiasakan akhlak perjalanan
Sebaiknya setiap orang memikirkan terlebih dahulu secara matang terhadap semua
perjalanan. Niat kita harus lah baik, ingin beribadah kepada Allah SWT. Apabila
melakukan safar atau Rihlah dengan perhitungan jadwal yang matang, akurat ,
rinci dan jelas agendanya. Sebaiknya jika suatu perjalanan tanpa adanya agenda
yang jelas, maka akan cenderung menyia – nyiakan waktu, biaya ataupun Energi,
dan bahkan akan membuka celah bagi syaitan untuk menyesatkan dan akhirnya
tujuan Safar tak tercapai. Dan kita harusnya bersyukur jika kita sudah berhasil
melakukan perjalanan.
D. AKHLAK BERTAMU
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tidak akan pernah terlepas dari kegiatan
bertemu. Adakalanya kita yang datang mengunjungi anak saudara, teman-teman atau
para kenalan, namun kesempatan lain berganti kita yang dikunjungi. Supaya
kegiatan saling berkunjung tetap berdampak positif bagi kedua belah pihak, maka
islam memberikan tuntunan begaimana sebaiknya bertamu dan menerima tamu
dilakukan.
1. Pengertian Akhlak Bertamu
Bertamu merupakan tradisi masyarakat yang selalu dilestarikan. Dengan bertamu
seorang bias menjalin persaudaraan bahkan dapat menjalin kerja ama untuk
meringankan berbagai maalah yang dihadapi dalam kehidupan.adakalanya seorang
bertamu karena adanya urusan yang serius, mialnya untuk mencari solusi terhadap
problema masyarakat actual, sekedar bertandang, karena lama tidak ketemu
(berjumpa) ataupun sekedar untuk mampir sejenak. Dengan bertangang ke rumah
kerabat atau sahabat, maka kerinduan terhadap kerabat ataupun ahabat dapat
tersalurkan, sehingga jalinan persahabatan menjadi kokoh.
Bertamu dalam bahaa Arab disebut dengankata ( ) “Ataa liziyaroti, atau ( - )
Iatadloofa-Yastadliifu”. Menurut kamus bahasa Indonesia, bertamu diartikan ;
“dating berkunjung kerumah seorang teman atupun kerabat untuk suatu tujuan
ataupun maksud (melawat dan sebagainya)”. Ecara istilah bertamu merupakan
kegiatan mengunjungi rumah ahabat, kerabat atau[un orang lain, dalam rangka
menciptakan kebersamaan dan kemalahatan bersama.
Tujuan bertamu sudah barang udah barang tentu untuk menjalin persaudaraan
ataupun perahabatan. Sedangkan bertamu kepadea orang yang belum dikenal,
memiliki tujuan untuk saling memperkenalkan diri ataupun bermaksud lain yang
belu diketahui kedua belah pihak.
Bertamu merupakan kebiaaan poitif dalam kehidupan bermasyarakat dari zaman
tradisional sampai zaman modern. Dengan melestarikan kebiaaan kunjung
mengunjungi, maka segala persoalan mudah dilestarikan, segala urusan mudah
diberskan dan segala maalah mudah diatasi.
2. Bentuk Akhlak Bertamu
Sebelum memasuki rumah seseorang, hendaklah orang yang bertamu terlebih dahulu
meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuni rumah. Allah berfirman:
Artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang
bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang
demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.”(.S. an-Nur/24/27).
Berdasarkan iyarat al-Qur’an di atas, maka yang pertama dilakukan adalah
meminta izin, baru kemudian mengucapkan salam. Sedangkan menurut mayoritas ahli
fiqih berpendapat sebaliknya. Menurut Rasululluh aw, meminta izin maksimal
boleh dilakukan tiga kali.
Disamping meminta izin dan mengucapkan alam, hal lain yang perlu diperhatikan
oleh setiap orang yang bertamu sebagai berikut:
1. Jangan bertamu sembarangan waktu.
2. Kalau diteima bertamu, jangan selalu lama sehingga merepotkan tuan rumah.
Setelah urusan seleai segeralah pulang.
3. Jangan melakukan kegiatang yang membuat tuan rumah terganggu.
4. Kalau diuguhi minuman atau makanan hormatilah jamuan itu. Bahkan Rasulullah
saw. Menganjurkan kepada orang yang berpuasa sunnah sebaiknya berbuka puasanya
untuk menghormati jamuan.
5. Hendaklah pamid pada waktu mau pulang.
3. Nilai positif Akhlak Bertamu
Bertamu secara baik dapat menumbuhkan sikap toleran terhadap oaring lain dan
menjauhkan sikap pakaan, tekanan, dan intimidasi. Islam tidak mengenal tindakan
kekerasan. Bukan saja dalam usaha meyakinkan orang lain terhadap tujuan dan
maksud beik kedatangan, tetapi juga dalam tindak laku dan pergaulan dengan
sesame manuia harus terhindar cara-cara pakaan dan kekerasan.
Dengan bertamu ataupun bertangang, seorang akan mempertemukan persamaan ataupun
kesesuaian sehingga akan terjalin persahabatan dan kerjasama dalam menjalin
kehidupan.
Dengan bertamu, seorang akan melakukan diskui yang baik, sikap yang sportif,
dan elegan terhadap seamanya.
Bertamu dianggap sebagai sarana yang efektif untuk berdakwah dan menciptakan
kehidupan mesyarakat yang bermartabat.
4. Membiaakan Akhlak Bertamu
Sesungguhnya bertamu itu sebagai kegiatan yang cukup mengasyikan. Dengan tujuan
bertamu seseorang dapat menemukan berbagai manfaat, baik berupa wawasan,
pengalaman berharga ataupun dapat menikmati segala bentuk penyambutan tuan rumah.
Menurut ungkapan Al-Qu’an, sebaiknya orang bertamu tidak memaksa untuk pada
saat tidak ada orang yang di rumuh.
Allah berfirman:
Artinya: ‘Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu
masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: "Kembali
(saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. an-Nur/24:28).
Al-Qur-an memberikan isyarat yang tegas, betapa pentingnya setiap orang yang
bertemu dapat nejaga diri agar tetap menghormati tuan rumah. Setiap tamu haru
berusaha menahan segala keinginan dan kehendaknya baiknya sekalipun, jika tuan
rumah tidak berkenan menerimanya. Demikin pula apabila kegiatan bertamu telah
uai, maka seorang yang bertamu telah usai, maka seorang yang bertamu harus
meninggalkan kesan yang beik dan menyenagkan bagi tuan rumah. Karena itu haram
hukumnya orang yang bertamu meninggalkan kekecewaan ataupun kesusahan bagi tuan
rumah.
E. AKHLAK MENERIMA TAMU
Islam memberikan aturan yang jelas agar setiap muslim memuliakan etiap tamu
yang dating, kerena memuliakan tamu sebagai perwujudan keimanan kepada Allah
dan hari akhir.
1. Pengertian Akhlah Menerima Tamu
Menurut kamus bahasa Indonesia, menerima tamu (ketamuan) diartikan; “kedatangan
orang yang bertamu, melawat atau berkunjung”. Secara istilah menerima tamu
dimaknai menyambut tamu dengan berbagai cara penyambutan yang lazim (wajar)
dilakukan menurut adapt ataupun agama dengan meksud yang menyenagkan atau
memuliakan tamu, atas dasar keyakinan untuk mendapatkan rahmad dan rida dari
Allah.
2. Bentuk Akhlak Menerima Tamu
Islam sebagai agama yang sangat serius dalam memberikan perhatian orang yang
sedang bertamu. Sesungguhnya orang yang bertau telah dijamun hak-haknya dalam
islam.karena itu menghormati tamu merupakan perhatian yang mendatangkan
kemuliaan di dunia dan akhirat. Setiap muslim wajib memuliakan tamu, tanpa
membeda-bedakan statu social ataupun maksud dan tujuan bertamu.
Memuliakan tamu dilakukan antara lain dengan menyambut kedatangannya dengan
muka menis dan tutur kata yang lemah lembut, mempersilahkan duduk ditempat yang
baik. Kalau perlu, disediakan ruangan khusus untuk menerima tamu yang selau
dijaga kerapian dan kelestariannya.
Kalau tamu dating dari tempat yang jauh dan ingin menginap, tuan rumah wajib
menerima dan menjamunya mekimal tiga hari tiga malam. Lebih dari tiga hari
terserah kepada tuan rumah untuk tetap menjamunyaatau tidak. Menurut Rasulullah
saw menjamu tamu lebih dari tiga hari nilainya sedekah, bukan lagi kewajiban.
3. Nilai Positif Akhlak Menerima Tamu
Setiap oaring islam telah diikat oleh suetu tata aturan supaya hidup
bertetangga dan bersahabat dengan orang lain, sekalipun berbeda agama atau
suku. Hak-hak mereka tidak boleh dikurangi dan tidak boleh dilanggar
undang-undang perjanjian yang mengikat di antara sesame manusia.
Menerima tamu sebagai perwujudan keimanan, artinya semakin kuat iman seseorang,
maka semakin ramah dan antun dalam menyambut tamunya karena orang yang beriman
meyakini bahwa menyambut tamu bagian dari perintah Allah.
Menyambut tamu dapat meningkatkan akhlak, mengembangkan kepribadian, dan tamu
juga dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendpatkan kemashalatan dunia ataupun
akhirat.
4. Membiaakan Akhlak Menerima Tamu
Menerima tamu merupakan bagian dari aspek soial dalam ajaran Islam yang harus
terus dijaga. Menerima tamu dengan penyambutan yang baik merupakan cermin diri
dan menunjukkan kualitas kepribadian seorang muslim. Setiap muslim harus
membiasakan diri untuk menyambut setiap tamu yang dating dengan penyambutan
yang penuh suka cita.
Agar dapat menyambut tamu dengan suka cita maka tuan rumah harua menghadirkan
pikiran yang positif (husnudon)terhadap tammu, jangan sampai kehadiran tamu
disertai dengan munculnya pikiran negative dari tuan rumah (su’udzon).
Apabila suatu saat tuan rumah meraakan berat untuk menerima kehadirab tamunya,
maka tuan rumah haru tetap menunjukkan sikap yang arif dan bijak, jngan sampai
menyinggung perasaan tamu.
Seyogyanya setiap muslim harus menunjukkan sikap yang baik terhadap tamunya,
mulai dari keramahan diri dalam menyambut tamu, menyediakan sarana dan
prasarana penyambutan yang memadai, serta memberikan jamuan makan ataupun
minuman yang memenui tamu.
KESIMPULAN
Agama Islam adalah agama yang sempurna, mengatur manusia dalam segala aspeknya.
Berpakaian, Berhias, perjalanan, bertamu serta menerima tamu tetap ada
aturannya dalam Islam. Semua akhlak tersebut adalah akhlak terpuji apabila kita
melakukannya hanya karena Allah SWT, tanpa ada niat yang berlebihan dan lain
dari pada niat kita kepada Allah SWT.
Maka dari itu, kita tidak boleh menyalah gunakan arti pakaian. Yang
sebetulnya untuk melindungi tubuh dari bahaya serta menutup aurat, fungsinya
berubah menjadi untuk memamerkan bentuk lekuk tubuh. Berhias juga tidak boleh
kita salah gunakan. Haruslah sesuai kadarnya, agar tidak menimbulkan pandangan
buruk terhadap kita. Dan jangan gunakan Berhias menjadi suatu hal yang maksiat
bagi kita. Perjalanan adalah suatu hal yang mulia.Hal yang suka dilakukan oleh
Rasulullah, dengan mempersiapkan segala aspek, baik waktu, tujuan, makanan,
serta yang lainnya.
Bertamu dapat menyambung tali silaturahmi, baik kepada siapapun. Ketika kita
bertamu, juga harus ingat aturan, karena kita bukan berada didalam rumah kita
sendiri. Menerima tamu juga hal yang mulia. Menerima tamu hukumnya wajib, kita
wajib menerima tamu apabila ia berada didalam rumah kita selama tiga hari.
Apabila tamu itu menginap dirumah kita lebih dari tiga hari, maka menerima ia
dirumah kita bukanlah wajib lagi. Kita berhak mengusir ia apabila mengganggu
ketentraman didalam rumah. Dan menjadi sedekah apabila kita tetap melayani ia
didalam rumah kita.
SARAN
Didalam berpakaian, kita sebagai muslim haruslah tetap berpakaian dengan
mengikuti syari’at Islam, dengan menutup aurat, tidak menggunakan pakaian yang
ketat atau membentuk lekukan tubuh